Jalan Kebenaran Ketika Banyak Perselisihan
Telah dimaklumi kewajiban kita mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun bagaimana sikap kita ketika bermunculan banyak perselisihan di kalangan kaum muslimin yang sudah menjadi sunnatullah dan sudah kita saksikan dengan kedua mata kita ini. Islam sebagai agama yang diturunkan dari Allah dan sudah disempurnakan Allah dalam firman-Nya:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu.” (QS. Al Maidah: 3)
Tentulah memiliki petunjuk dan penjelas bagaimana bersikap dalam permasalahan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penjelasan tentang hal ini dalam beberapa hadits, kita bisa ringkas dalam poin berikut:
Pertama, berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemahaman para sahabatnya. Ini dijelaskan dalam sabda beliau:
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَة
“Barang siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah Rasyidin yang memberi petunjuk berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan) karena hal itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”
Kedua, mengikuti imam (khalifah) kaum muslimin apa bila ada dan menjauhi kelompok-kelompok yang bermunculan setelah kehilangan imam kaum muslimin dan negara kekhilafahan. Tapi dengan senantiasa mengamalkan langkah pertama. Hal ini dijelaskan dalam sabda beliau:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يستنون بغير سنتي ويَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Dari Hudzaifah bin Al Yaman, beliau berkata: orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena takut jangan-jangan menimpaku,Maka aku bertanya: Wahai Rasululloh kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah memberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan? Beliau menjawab: Ya, aku bertanya: Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan? Beliau menjawab: Ya, dan ada padanya kabut (dakhon), aku bertanya lagi: Apa kabut (dakhon)nya tersebut, beliau menjawab: Satu kaum yang mengikuti contoh teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik dari mereka dan kamu pun mengingkarinya, aku bertanya lagi: Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi, beliau menjawab: Ya, para dai yang mengajak ke pintu-pintu neraka (jahanam), barang siapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka jerumuskan ke dalam neraka. Aku bertanya lagi: Wahai Rasulullah berilah tahu kami sifat-sifat mereka? Beliau menjawab: Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita. Aku bertanya lagi: Wahai Rasulullah apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?, beliau menjawab: Berpegang teguhlah pada jamaah muslimin dan imamnya, Aku bertanya lagi: Bagaimana jika tidak ada jamaah maupun imam? Beliau menjawab: Hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu.” (HR. Bukhari 6/615-616 dalam Fathul Bari dan Muslim 1847)
Demikianlah kami mengajak saudara sekalian untuk kembali mempelajari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dipahami langsung para sahabat yang sudah mendapat jaminan dari Allah. Siapa yang sama dengan mereka dalam iman maka mendapatkan petunjuk, seperti dijelaskan dalam firman Allah:
فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْل مَآءَامَنتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” (QS. Baqarah: 137)
dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ مِنْ وَرَاءِكُمْ أَيَّام الصَبْرِ للمُتَمَسِّكِ فِيْهِنَّ يَوْمَئذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ
“Sesungguhnya ada setelah kalian hari-hari kesabaran, orang yang berpegang teguh kepada apa yang kalian ada atasnya pada waktu itu mendapat pahala 50 orang dari kalian.” (Hasan dengan syahid-syahidnya; sebagaimana telah saya jelaskan dalam Darul Irtiyaab An hadits Ma Anaa Alaihi wal Ashhaab hal 15).
Jalan para sahabat inilah yang dinamakan sabilul mukmin kerana merekalah Allah turunkan firman-Nya:
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. Annisa’: 115)
Oleh kerana itu renungkanlah pernyataan Ibnu Mas’ud, “Barang siapa yang mencontoh maka contohlah sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka adalah orang-orang dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling tidak macam-macam, paling baik contoh teladannya dan paling bagus keadaannya, mereka adalah satu kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya dan untuk menegakkan agama-Nya, maka akuilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak langkah mereka kerana mereka telah berada di atas petunjuk yang lurus.”
Demikian juga ucapan Al Auza’i, “Sabarkan (tetapkan) dirimu di atas Sunnah, berhentilah di mana kaum (para sahabat) berhenti, katakanlah apa yang mereka katakan dan diamlah apa yang mereka telah mendiaminya serta berjalanlah di jalan Salafus Salih, karena mencukupkan kamu apa yang telah mencukupkan mereka.” (Al Aajuriy dalam Asy Syari’ah hal 58).
Mudah-mudahan Allah menunjuki kita semua ke jalan-Nya yang lurus. Amiin.