Banyak orang-orang yang berkata tentang manhaj yang terbaik untuk diikuti dengan tujuan untuk meyempurnakan sasaran kita atau misi kita hidup di dunia, yang tentu saja di ridhoi oleh Allah (swt) di dalam dunia ini dengan melakukan perintahNya dan menerapkan DienNya dengan tujuan untuk memperoleh keridhoanNya dan mendaptkan jannah di hari akhir.
Pertanyaan yang muncul, ‘apa itu manhaj yang benar?’ terutama ketika setiap orang mengikuti kemauannya sendiri kemudian mengklaim bahwa kemauannya adalah benar dan sesuai menurut Qur’an dan Sunnah pada saat dia telah membuat banyak inovasi tentang isu-isu dalam dien, namun dia telah menuntaskan usaha yang keras untuk membaca teks-teks dan memeluknya dengan tujuan agar besesuaian dengan inovasinya. Ketika itu terjadi, kemudian itu menjadi keharusan bagi ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah untuk meletakkan petunjuk tertentu dan bingkai kerja untuk menjadikan sebuah patokan untuk keimanan mereka dan metode yang lurus, jadi bahwa itu bisa menjadi sebuah petunjuk bagi seseorang yang mencari tahu tentang kebenaran, dan maka dengan jalan itu bisa di kenal menjadi Manhaj atau Minhaj.
Artikel ini, kita akan menyoroti pengertian manhaj secara bahasa dan istilah diantara Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Itu telah di laporkan dalam kamus bahasa arab seperti Mu’jam Maqayis Al Lugha menurut ulama bahasa Ibnu Faris Jilid 5 Hal. 361 dan dalam Qanus Al Muhit menurut Fairuz Abadi hal.266 tentang pengertian minhaj dalam bahasa Arab,
“Manhaj dan Minhaj dalam pengertian awalnya adalah Tariq ul Wadih (jalan yang bersih) segaimana Allah telah berfirman, “tiap-tiap umat diantara kamu telah di berikan syariah dan minhaj,” (QS Al Maidah 5 : 48), Syariah adalah Dien dan minhaj adalah metode dari dien itu.”
Lebih lanjut, Al Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya jilid 2 hal. 66 berkata,
“Minhaj adalah jalan yang bersih dan sederhana (At Tarieq Al Wadih As Sahl)
Dan Imam Syaukaani berkata hal yang sama dan menyandarkanya pada ulama ahli bahasa Ibn ul Mubarrid.
Sejuah ahli bahasa pahami, manhaj adalah
“Ad Dien Al Islam dan metodenya”
karena Allah (swt) berfirman,
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” (QS Ali
Imran 3 : 19)
Selanjutnya, Manhaj ketuhanan adalah Al Islam, yang berarti bersih dan jalan yang sederhana dengan sunnah ketuhanan oleh tiga pilar utama:
berkaitan dengan Wahyu – Al Qur’an
Sunnah
mengikuti pemahaman para sahaba-sahabat rasulullah (saw).
Sungguh, manhaj adalah sesuatu yang mutlak, yang Allah (swt) telah berikan kepada siapa saja yang apabila dia memegangnya tidak akan jatuh kepada penyimpangan dan kesesatan kemudian itu juga adalah sebuah tolak ukur pada semua perkataan dan perbuatan orang-orang akanmenjadi terukur dengan tujuan untuk memisahkan antara yang baik dan yang buruk, haq dan yang batil. Itu adalah manhaj, dan manhaj itu adalah yang disebut sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Hujjah untuk tiga pilar utama diatas bagi manhaj Ahlus Sunnah adalah karena Allah (swt) berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An Nisa : 59)
dalam ayat ini Allah memerinthakan kepada kita untuk merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah kemudian ‘ulil amri diantara kamu’, itu adalah sebuah hujjah untuk ketiga pilar tersebut. Banyak mufassirin dari ulama berkata,
“ketaatan pada ulil amri adalah untuk mengikuti apa yang dari ummat terdahulu dari kalangan sahabat dan yang mengikuti mereka dan pada apa yang mereka sepakati adalah sebagai sesuatu yang bersifat menentukan, dan apa saja yang mereka selisihkan didalamnya, kemabalikan pada Qur’an dan Sunnah.”
Pemahaman ini telah di manifestasikan dengan benar oleh Syeikh ul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fattawa jilid 20 hal. 164, dimana dia mengkombinasikan dalam sati kalimat semua pilar dari manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah:
“Dien dari kaum Muslimn adalah berdasarkan mengikuti Qur’an dan Sunnah dan apa yang telah disepakati diantara ummat (yaitu dia juga menjelaskan di lain tempat bahwa ketika dia menyebutkan ‘ummah’ dia mengartikan pada Sahabah), ini adalah tiga pilar fundamental yang ampuh dan dimana saja terdapat peselisihan diantara Ummat kita akan mengembalikan pada Allah dan RasulNya.”
Selanjutnya, kita sebagai kaum Muslimin yang Allah telah memberkahi kita dengan Ni’ma Islam, kita harus ingat bahwa Allah tidak akan menerima dari kita dien apapun selain Islam dan Allah (swt) telah menjadikan kitabNya sebagai furqan (pembeda), pembeda antara orang-orang Islam dari orang-orang Musyrik, kufur, berhala, nasrani – sebagaimana Allah berfirman,
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya…” (QS Ali Imran 3 : 85)
Maka kita harus memeluk pada fondasi dari Dien Kita dan bersekutu dengan orang-orangnya kemudian kita harus bebas, manjauh, mencela kekufuran dan kesyirikan juga orang-orangnya sebagaimana Allah (swt) berfirman,
“Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Hud 11 : 52)
Dan Allah (swt) berfirman,
“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan
menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS Ar Ra’ad 13 : 18)
Sebagai tambahan, kita harus maju kedepan dan mendukung Dien Allah dan mengimplementasikannya dan berjuang untuknya untuk memenuhi janjinya dan memberikan kepada kita kemenangan, sebagaimana Allah (swt) berfirman,
“. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad 47 : 7)
Dan apa saja yang telah disepakati diantara kaumMuslimin tanpa ada perselisihan itu berarti adalah ‘jika kita membantu Allah’ berarti bahwa jika kita melakukan apa yang Allah perintahkan kita lakukan, Dia akan membantuk kita dan memberikan kepada kita kemenangan atas musush-musuh kita. Dan Allah berfirman,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An Nur 24 : 55)
Segala kemenangan berada di tangan Allah dan Dia adalah satu-satunya yang bisa memberikan kemenangan, dan orang-orang yang berpikir bahwa mereka bisa mendapatkan kemenangan yang berasal selain dari Allah mereka hanya membodohi diri mereka sendiri, Allah (swt) berfirman,
“Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain .” (QS Al Mulk 67 : 20)
Kemengan hanya berasal dari Allah dan hanya orang-orang yang berhak bisa mendapatkannya, orang-orang yang mengikuti Dien dan manhaj Salaf kemudian Imam Malik memberi komentar pada dua ayat diatas,
“apa saja yang tidak ada dalam masalah Dien (pada generasi salaf), tidak bisa menjadi bgian dien pada saat ini dan tidak ada jalan bagi generasi berikutnya dari ummat untuk memperoleh apapun kecuali pada pada apa yang telah diperoleh dari generasi pertama.”
bagus
Ijin copas ya?